Keprihatinan Bangsa Ditinggal Bibit Cerdas Anak Indonesia

Hari ini tanggal 23 Juli Bangsa Indonesia merayakan Hari Anak Nasional. Dari perayaan ini, muncul banyak keprihatinan mengenai pendidikan dari saya pribadi. Pertanyaan paling pelik dalam diri adalah, apakah kita bisa maju jika bibit-bibit unggul kita dibajak oleh negara asing?

Terdapat banyak aspek mengapa pembangunan Indonesia tumbuh melambat, jalan merambat. Misalnya saja mindset anak-anak muda sekarang. Mereka merasa dirinya diakui cerdas jika sudah diterima kuliah di kampus luar negeri, kemudian kerja di luar negeri, berpenghasilan jauh lebih besar dibanding saudara sebangsa di dalam negeri. 

Negeri lain memiliki pemikiran puluhan tahun ke depan. Mereka menawarkan beasiswa kepada siswa-siswa cerdas di Indonesia. Kemudian menawarkan pekerjaan untuk menunjang financial dengan tawaran yang menggiurkan. Anak cerdas indonesia berkontribusi terhadap perkembangan negara mereka. Alhasil, berkembanglah negeri mereka dan menunjang sistem perekonomian dan pembangunan negara.

Jika kita perhatikan, tahun 2010, siswa Indonesia yang dibajak luar negeri sekitar 1,3 juta orang. siswa-siswa ini adalah bibit unggul yang mampu memajukan negeri. Mereka ditawari fasilitas yang mumpuni untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lalu, apa ya yang sudah dilakukan pemerintah kita? paling tidak seharusnya pemerintah meyakinkan anak-anak muda kalau kita memiliki sistem pendidikan yang bagus. Bahwa kita mampu maju dan berkembang untuk menciptakan bangsa mandiri. Tapi lagi-lagi, PR pemerintah kita memang masih sangat banyak.

Seperti dilansir dalam salah satu situs pendidikan, 54% Guru di Indonesia Tak Mempunyai Kualifikasi yang Pass untuk mengajar. Padahal, Guru adalah ujung tombak dalam meningkatkan mutu pendidikan, guru bisa menjalankan jalinan landsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di dalam kelas. Lewat proses menggali ilmu & mengajar inilah berawalnya mutu pendidikan.

Belum lagi Indonesia memiliki sistem pendidikan yang belum merata di seluruh daerah. 34% Sekolah di Indonesia Kekurangan Guru karena distribusi Guru tak merata. 21% sekolah di perkotaan kekurangan Guru. Menurut Teacher Employment dan Deployment, sebanyak 37% sekolah di pedesaan kekurangan Guru. 66% sekolah di daerah terpencil kekurangan Guru & 34% sekolah di Indonesia yg kekurangan Guru.

Saran dari saya yang cupu ini  sih, memang midset yang paling penting untuk diubah. Cintai dulu bangsa ini. Tumbuhkan dulu sifat nasionalisme kita. Jadi, ketika siswa-siswa cerdas belajar di negeri antah berantah, mereka tahu pulang untuk bisa membangun bangsa. Mereka yang sudah pergi belajar, kembali pulang secara utuh. Tidak hanya satu atau dua orang. Sedangkan PR terberatnya, pemerintah yang orang-orangnya banyak yang bobrok ini bisa digilas pakai bola bowling kemudian diganti dengan orang-orang baru yang punya sikap seperti Ridwan Kamil atau Ahok mungkin. Dari pergantian generasi ini, pemerintah jadi bisa mendukung bibit-bibit unggul kita yang sudah belajar di luar negeri, untuk bisa menerapkan nilai positif ke bangsa sendiri.

Akhir cuap-cuap, Selamat Hari Anak Nasional. Pendidikan Anak, Perlu.